Sabtu, 06 Juni 2020

Moonlight

Moonlight

andai wajahmu tak seteduh bulan
dari persekongkolan malam, dan detak jarum jam, juga kerja api
yang tekun membakarku dari dalam

hah! andai wajahmu hanya serupa poto saja
terpampang dalam wallpaper hp, yang menahan diri dari lincah gerak awan berjalan
andai engkau bukan pekan yang begitu bingar
tempat anak-anak rindu begitu bar-bar menindas sepi langit dengan ledakkan kembang api

bukan saat dengan warna sephia
sewaktu bayang-bayang ranting pohon
jatuh merayap di tanah
andai engkau bukan kecantikan sewarna teduh bulan
yang diremas-remas, menebarkan sinar pias menyebrangi wajahku

o kekasih, aku tak pernah terlalu mabuk
akantetapi ketika aku berada di bawah langit, tiap kali aku menengadah wajah
aku merasa begitu dekat, dan mampu menggenggam bulan itu

semua benda dan apa yang berada dalam diriku dapat kurasa berdenyut
di luar gerak aku seolah mengambang
dalam teduhmu segala yang aku pandang bergeliat.

~al 12/mei/2020

Kamis, 04 Juni 2020

Hidangan Penutup

HIDANGAN PENUTUP

Sangkaku langit cerah
angin bertiup pelan, membelai 
wajahmu; kuraba-
raba lindap
dipadamkan lampu-
lampu, dan bisu bangku

tak ada kata, hanya
lagu mengalun
sendu lamat-
lamat merambat
menjangkau udara

Di ujung pisau bisu
menggores nyeri kepergian
setangkai kembang
kugenggam duri-
duri yang kau beri
kutelan getir
getir rasa masakan
semangkuk
takdir:
 
Bergerigi di jantungku!

Banjar 2017

Memanggil Hujan

Memanggil Hujan

Air sepanjang sungai kering,
seperti desing; keluhan
tak bosan berdering memanggil-
manggil bulir yang demam
dalam rendaman

Dia pernah melihat, dalam
mimpi sungai berkilat mengikat
bintang tunduk; air
mengaliri rumput-rumput hingga 
ke ladang

: Gersang
menjadi kandang
menjadi gudang

"Ini hanya jeda"
katanya. Sebab sungai
tak pernah dahaga
tanpa rencana.

Tak sepanjang lahat
yang penuh ulat dengan 
lidah api menjilat-
jilat

Air sungai itu kering;
keluh berdering, memanggil-
manggil dalam gigil

Tuhan, kapan kau turun!

Banjar. 11/09/07

"Kepada Yang Aku Cinta"

kepada yang aku cinta

aku bukanlah luas langit
yang tiba-tiba dapat menyatakan cinta
kepada bumi
melalui isyarat hujan

'maafkanlah!'

bahwa sekalipun aku berkata
atau menangis
atau tertawa
kau tak mendengar
atau mengerti

bahwa aku ada
menyimpan senyummu
yang dibasahkan gerimis
dalam saku kiri

mungkin kau 'kan bertanya
'apa yang dapat dilakukan faiz?'

aku di sini
di dalam sebuah lonceng
sebagai genta
yang bisa kau dengar jika kau bergerak
atau di dalam senar sebagi nada
yang bisa kau iringi
jika kau petik

tak ada yang bisa kukatakan
kepada dirimu, juga yang pernah kulewati
dan jika kau benar-benar bergerak
aku bisa kau dapatkan
sebagi sepatu yang menunggu
sepasang kakimu
genta atau nada yang bisa membersamaimu
dalam nyanyian hujan

bahkan jika isyarat-isyarat
atau kata-kataku tak dapat kau paham
yakinlah aku bisa menjadi seseorang yang datang
atau seseorang yang pergi
dari sebuah kematian menuju kematian

'tak ada yang benar-benar sunyi!'

~al

Bohlam Mushola

Bohlam Mushola

ia masih berjaga di mushola kecil ini
meski redup dan sesekali mengerdip
membalas kersak ujung sapu lidi
yang menggaruk sajadah-sajadah

'seperti yang sudah-sudah--tuhan selalu lembur.'

di malam-malam legam nan sepi
menanti kita membuatkan secangkir kopi
dan mendengar cerita keluh-kesah
akantetapi wabah mengurung
tuhan dan bohlam itu dalam rumah ibadah
bersama isak sapu lidi dan lipatan-lipatan sajadah.

'sampai kapan kita hendak merawat resah?'

~al
270320

puisi "kota mati" karya nurohman al faiz

kota mati

kota itu sekarat
tak terdengar barang ringik
jantung kendaraan berlalang lalu
hanya bunyi kersak
kering daun terseret angin
menyapu aspal berdebu

pudar warna gedung
seorang berbaring di dalam kamar
menggenggam biji-biji tasbih
bulan yang tergantung
menitipkan cahaya kepada kaca jendela
menegaskan biru kulit gadis itu
biru pucat

'mungkinkah dia sedang memimpikan kota baru?'

~al

Viral KAMBING ber Mata satu